Selasa, 25 Maret 2014

Menjadi Orang Indonesia Sejati

Erang hila aku manyiangan lengan, rueh makis kuai manatuien leut
Supan wae aku manyiangan lengan, sidap sarung kuai minutuien leut
Daya budu dintung aku ngandrei watang tenga, dilu nate kuai nunup pakun munuk
Daya puang uweng aku bagaguru nginung, Anuh naan kuki bagukawit ngapang
 

Penggalan Tumet leut ini mengantarkan penulis untuk menyampaikan pemahaman pribadi, utamanya tentang dua seni sastra Dayak yang ada di Kalimantan Tengah. Tumet Leut dayak Maanyan dan Karungut Dayak Ngaju dalam persepsi kekayaan budaya di Kalimantan Tengah. Seperti mengapa ada Betang di DAS Barito alih-alih Lewu Hante begitu pula mengapa harus mempelajari Karungut saat belum mampu menguasai Tumet Leut.

Tumet adalah rangkaian bahasa sastra adat dayak maanyan, penuh dengan kiasan yang tidak bisa diartikan secara harfiah. bahasa yang digunakan adalah bahasa "Pangunraun", dilantunkan dengan berbagai versi nada yang disebut leut. http://komandanmaanyan.blogspot.com

Karungut adalah tradisi sastra Dayak Ngaju, dikenal sebagai salah satu jenis puisi tradisional yang dituturkan dengan cara melantunkan atau mendendangkannya secara lisan (oral poetry) pada acara-acara keramaian, acara adat atau pada lingkungan rumah. Adianto (1987:18) bahasa yang digunakan adalah bahasa Sangiang atau bahasa Sangen (bahasa Dayak Ngaju Kuno) http://dayak-artmusic.blogspot.com.

Dari bahasa yang digunakan kedua jenis seni sastra ini  sudah sangat berbeda, belum lagi dari versi nada, alat musik pengiring. Mungkin hal yang menjadi persamaan kedua seni sastra ini adalah keduanya didendangkan secara lisan (oral poetry). 

Menjadi pertanyaan saat dimunculkan lomba Karungut pada Festival Tahunan Isen Mulang, seluruh kabupaten di Daerah Aliran Sungai Barito terpaksa harus beradaptasi untuk mempelajari seni sastra Dayak Ngaju. Hal ini dilakukan sebab lomba karungut memberikan satu point penilaian untuk menjadi juara umum pada festival ini. Apakah ini salah satu bentuk penjajahan budaya? seperti seluruh Indonesia yang diharuskan memakai pakaian batik, bukannya kain ulos, benang bintik dan berbagai pakaian daerahnya masing-masing.

Cukup menggelikan mendengar peserta dari DAS Barito yang mencoba melantunkan karungut dengan logat berbeda,  hampir dipastikan mereka tidak akan mampu bersaing dengan penutur asli bahasa Dayak Ngaju. Begitu pula bila seluruh Kalimantan Tengah harus belajar seni sastra Tumet Leut Dayak Maanyan.

Mengutip pernyataan seorang budayawan "untuk menjadi orang Indonesia sejati, pelajarilah budaya mu sendiri bukan budaya orang lain. yang jawa pelajari budaya jawa, yang sunda pelajari budaya sunda, yang bali jadilah orang bali sejati". Bila seseorang tidak mengenal budayanya sendiri lalu siapakah dirinya????

Jumat, 24 Januari 2014

Baluntang, Simbol Status Orang Dayak

Palangka Raya – Orang dayak Maanyan menyebutnya Baluntang sedangkan orang Ngaju menamakannya Sapundu, keduanya memiliki bentuk dan fungsi yang hampir sama. Secara umum bagi orang dayak maanyan utamanya yang beragama kaharingan, mendirikan baluntang sangatlah penting. Karena upacara Buntang dimana baluntang menjadi objek utama Aruh (upacara) merupakan bagian penting dalam tahapan upacara kematian. Upacara ini bertujuan mengangkat arwah orang yang meninggal dari alam kubur ke alam roh yang penuh kesempurnaan sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga dan warga terhadap mendiang. Baluntang sendiri memiliki fungsi fisik menjadi tempat mengikat kerbau yang dikorbankan pada upacara buntang dan juga sebagai batur atau nisan. Untuk bentuk fisiknya berupa batang ulin (kayu besi) yang seperempatnya dipahat menyerupai wujud manusia. Setiap rupa patung ini menggambarkan keadaan mendiang semasa hidupnya. Bila patung berupa orang berdiri dan memegang tongkat maka kemungkinan besar semasa hidup almarhum adalah wadian/balian. Bila patung memegang tombak dan mandau maka kemungkinan arwah adalah pejuang atau kesatria. sedangkan bila rupa patung sedang duduk di atas kursi maka orang yang diperlambangkan adalah pejabat seperti penghulu, pembakal atau mantir kepala adat. Mengapa baluntang dapat menjadi penanda status social dikalangan masyarakat dayak maanyan, hal ini dikarenakan untuk mendirikan baluntang diperlukan biaya yang mahal. Andaikan saja ada rumah yang kecil namun didepannya terdapat banyak baluntang maka keluarga diruma itu bias dikatakan keluarga berada. Berbeda dengan saat ini dimana megah dan mewahnya rumah serta deretan mobil menjadi penanda status seseorang. Upacaranya buntang sediri dapat berlangsung antara tiga hingga tujuh hari tergantung kemampuan penyelenggara. Meskipun besar biayanya, tetap harus dilaksanakan bahkan bisa saja satu baluntang dibangun untuk lebih dari satu leluhur, asalkan masih satu garis keturunan. Sejak pencarian kayu, pembuatan, hingga berdirinya baluntang, banyak ritual pantangan, dan syarat yang harus dilakukan dan dipenuhi. Contohnnya saja pembuatan baluntang, sebelum mulai pekerjaannya, pemahat melakukan ritual menyembelih ayam jantan. Syarat lainya yaitu menyiapkan dua jenis beras, beras lungkung dan dan beras ketan dalam sangku, dilengkapi satu bungkus gula merah dan sebutir buah kelapa tua. Jadi cukup jelas bahwa pemahat baluntang bukanlah sembarang orang, karena diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus untuk memahat baluntang. Hal ini menambah nilai seni, estetika serta nilai sejarah dari baluntang, itulah mengapa pada tahun 70an sangat banyak balutang warga yang hilang dicuri. Saat ini keberadaan baluntang yang sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun yang dalam kondisi bagus sudah cukup jarang. Namun sekarang mulai berdiri beberapa baluntang baru di daerah Barito, dimana sebagian besar suku dayak maanyan tinggal.

Kamis, 05 Desember 2013

Motif Tribal

Tribal dalam arti kata bahasa inggris artinya kesukuan. Mencerminkan tentang motif kesukuan dalam hal ini yang ku maksud Tribal khususnya yang sering digunakan untuk menghias tubuh. Menurut ku Motif Tribal yang digunakan untuk menghias tubuh berbeda dengan motif tribal yang digunakan pada ornamen seperti perisai. Ada yang mengatakan pada setiap goresan motif harus memiliki/mewakili makna dari sesuatu yang ingin digambarkan. Seperti garis lengkung yang menyiratkan sepasang taring atau kaki ataupun ekor, tergantung penafsiran sang pembuat dan yang melihat.


Garis Tanpa/ dengan Makna
Garis Tanpa Makna
Bayangkan saat bentuk tribal yang digunakan pada peti jenazah tersemat sebagai tato para penari, penggunaan tanpa mengetahui sumber tribal tersebut. Atau Tato tribal yang memiliki arti khusus/penanda seperti tato bunga terong yang disematkan tidak pada posisi dan orang yang tepat. Cukup lucu bila menemukan motif tribal yang biasa digunakan pada bangunan disematkan di badan, kira-kira itu penari ato rumah betang hahahaaa...... Setidaknya sang pembuat motif bisa menjelaskan secara umum bentuk dari motif yang ia gambar, bukan asal-asalan menjawab. peace bro :p

Fire Show


"Playing with fire" sebagian mungkin setuju, penggunaan media api untuk melengkapi sebuah pertunjukan tari agar terlihat lebih WOWWW. Namun ada pula yang tidak setuju karena cukup berbahaya mengingat kostum dari para penari yang mudah terbakar. Hal yang dapat membahayakan penari serta pertujukan yang dilakukan. Bukan hanya sekali terjadi keteledoran saat api melalap aksesoris penari seperti bulu-bulu burung, pernah sekali kusaksikan para juri berlari untuk memadamkan api yang menyaka dikepala seorang penari.

Walau cukup berbahaya namun pertunjukan yang kusebut "Playing with fire" ini masih cukup sering dilakukan. Well it's fun to watch biarlah mereka yang cukup ahli saja yang melakukannya, aku cukup sebagai penonton saja.

mencoba mencari referensi apakah ada ritual adat yang menggunakan belerang dan api sebagai media, kutemukan pada acara Mansar suku dayak Lawangan. Wara yang memimpin upacara menggunakan media api dalam ritualnya, entah apa maksud dan tujuannya.

Mungkin dimasa akan datang seni pertunjukan ini akan berkembang lebih jauh, selama kreatifitas para penggiat seni masih ada maka akan selalu ada inovasi baru. Selama masih memiliki dasar yang bersumber dari ritual adat, pun aku masih tertarik untuk menyaksikannya.

Senin, 08 Februari 2010

WADIAN SANGGAR


La cérémonie Wadian Sanggar est un mélange entre Wadian Bawu et Wadian Dadas, ils peuvent se mélanger parce que la musique et l’art de danse ont une similitude. Comme l’un des cultures Wadian, Wadian Sanggar a une fonction dans la société. Cette cérémonie fait par la société dans la fête d’accueille, prédire une fête du mariage traditionnelle, et présenter dans les l’exposition de la culture.
Wadian Sanggar est un type de Wadian qui n’a pas d’élément magique ; il a été créé pour éviter la presse du gouvernement pendant le régime Soeharto. Les caractéristiques de Wadian Sanggar sont :
• Le danseur a des bracelets. Les bracelets de Wadian Bawu s’appellent Gansa, et Kapura pour le Wadian Dadas. Les danseurs les portent pour convoquer les ancêtres. Chaque danseur a ses propres bracelets : un danseur ne peut pas prendre les bracelets des autres, parce que la sonore des ces bracelets peut être mal.
• L’art sonore pour Wadian Bawu est Riak, et celui deWadian Dadas est Numet. C’est une prière au dieu. Mais dans Wadian Sanggar, l’art sonore est une poésie ou histoire des mânes des ancêtres. On n’utilise pas la langue Pangunraun pour l’art sonore Wadian Sanggar, parce que la langue Pangunraun utilisée pour prier au dieu.
• Les costumes de Wadian Bawo. on porte le sarong rouge, met une écharpe sur le sarong et le serre-tête rouge. La couleur rouge est pour présenter les courages des dayaks.
• Saramen est un collier qui se compose des dents ou des crocs des animaux dangereux comme les ours malais qui présentent le courage, les perles qui présentent une position dans la société, les petites bouteilles (l’huile de Wadian) qui présente la grandeur de Wadian sur la magie, et les petites sculptures qui deviennent le médiateur pour les esprits d’ancêtres.
• Les costumes de Wadian Dadas : elle s’habille un sarong (kanrung), Peteh (le tissu blanc) pour une ceinture, et un serre-tête du tissu blanc (elle porte la couleur blanche pour présenter la pureté).
• L’instrument de musique : un tambour, un grand et un petit gong. Ils font de la musique pour appeler les esprits des ancêtres.
Dans la cérémonie traditionnelle du mariage, on appelle Wadian Sanggar comme I’wurung Juei. TautanC’est un art de danser pour accueillir les futures mariés dans la société. Wadian doit garder une chandelle sur sa tête. Quand la chandelle éteint pendant la danse, c’est-à-dire que le mariage ne sera pas éternel.
Comme l’un des cultures anciennes, Wadian a une place spéciale dans la société de Dayak Ma’anyan. La culture Wadian est seulement fait autour de Dayak Ma'anyan. L’art de danser, la voix, la musique, ou bien les manières sont différents que les autres Dayaks à Bornéo Centre. Wadian est une culture unique parce que on ne la crée pas directement selon la nature, mais il est un résultat quand la culture Wadian reçu le presseur du gouvernement. C’est-a-dire un changement culture ne peut pas tuer une culture quand la société faire des efforts de garder leur culture.


Senin, 01 Februari 2010

L’Histoire de la Culture Wadian


Avant que la région Nansarunai (l’appellation d’une type de royaume Dayak Ma’anyan à Barito) s’est fondée en 1332, il y avait 5 personnes qui avaient une initiative de faire la culture Wadian, ils étaient :
1. Si Ingar a un titre Wadian Ingar balanut Nampuk Galung (femme)
2. Si Amme a un titre Wadian Amme balanut Ineh Reun (femme)
3. Si Ingkar a un titre Wadian Inkar Wulan, Ineh Gansu Riwut (femme)
4. Si Tekar a un titre Wadian tekar balanut Gangsa Walang, Wadian Inrawanan, bujang lanu kahiyangan (femme)
5. Si Tamurak sunsu, Dara Hemai Panuluen (femme), elle allait à la région Nansarunai et faisait une collaboration avec les peuples dans cette région de faire la culture Wadian.
Après que la région Nansarunai était fondée en 1332, la culture Wadian devenait une partie de règlement qui arranger de la société dans cette région. Ensuite, les supérieurs de la culture et de la société ont décidé que la langue Pangunraun (la langue polie de Ma’anyan) est devenu la langue pour l’évènement Wadian et Wadian Pangunraun est devenu le premier nom de cet évènement, et l’art sonore (kahiyangan) a dominé le Wadian Pangunraun.
Concernant ses fonctions, Wadian Pangunraun est partagé en deux : Wadian Pangunraun Rumung qui a une relation avec des habitudes dans la vie et Pangunraun Jawa qui a une relation avec la cérémonie de la mort.
Selon le livre Sejarah dan Kahiyangan Wadian, la culture Wadian se changer dans 7 types, ce sont
1. Wadian Pangunraun ; Gentong et Dusau disent que : dans la cérémonie Ijame Datu Burungan à Watang Helang Ranu, Tate Ngagang Wunrung, Mantir Kaki (le nom d’assistant des supérieurs de la société) partage l’évènement Wadian Pangunraun sur deux types ; Wadian Pangunraun Rumung et Wadian Pangunraun Jawa.
i. Wadian Pangunraun Rumung s’occupe de l’habitude de la vie
ii. Wadian Pangunraun Jawa est un rite sur la cérémonie de la mort spécialement pendant la cérémonie Ijame ou Wara.
2. Wadian Amunrahu est une type de Wadian qui a une fonction différente, Bintang Amunrahu Wulan Gisi Langit Inung Babu Haji et Hinga Wulan Layu la séparent pour améliorer son utilisation autour des peuples Ma’anyan. Wadian Amunrahu a une fonction comme le premier rite avant une cérémonie et pour une médication.
3. Wadian Tapu Unru a été créé quand les habitants pensent que la connaissance vient des gens mystiques, alors il l’exprime à la culture Wadian. Il a une fonction comme la prière à Hiyang Dewata Penguasa Alam Jagad pour le succès et les autres travaux. On la fait aussi pour la médication.
4. Wadian Bawu vient d’une personne mystérieuse s’appelle Si Balala. Ce sont seulement les hommes qui font ce genre de Wadian. Wadian Bawu a une fonction comme médication, prière, rite pour retrouver l’esprit humain qui n’est pas encore mort, et maladie à cause d’humain.
5. Wadian Dadas est une culture Wadian qui vient du comportement d’un calao s’appelle Jure Ineh. Il a une fonction de construire Gunung Pirak pour un fête et construire Balai Nasi comme un amende payée à l’amiable quand quelqu’un ne veut pas devenir le Wadian ou le guérisseur.
6. Wadian Dapa est un type de Wadian qui a presque disparu. Maintenant, il est difficile de chercher l’information comment sont ses manières et ses fonctions. On ne sait que Wadian Dapa est devisé dans deux types, on sait seulement Wadian Dapa Nyurung Hubung et Wadian Dapa Ngajaije. Ils ont une fonction comme Wadian Tapu Unru.
7. Wadian Sanggar a été créé parce qu’il n’y a pas de courage autour des peuples pour présenter l’événement Wadian qui a des éléments magiques dans des cérémonies comme une fête du mariage ou une cérémonie d’accueil.













On appelle la personne qui dirige Wadian comme Wadian. Pour devenir un Wadian, une personne doit accomplir trois étapes, ce sont :

1. Ayak Kingking est la première étape pour la candidate de Wadian. Cette une étape des choisir la candidate qui a une compétence pour devenir le Wadian.
2. Tumang Satengah (Ayak Manta) est la deuxième étape, il faut la faire pour améliorer la connaissance de l’apprenant (Anak amu) pendant ses études (Kawit-Kinte). Dans cette étape l’apprenant accompagne son tuteur dans des cérémonies Wadian.
3. Tumang Hampe ou Tumang Jari est la dernière étape. C’est une étape quand le tuteur Wadian (Rampu) considère que ses étudiants ont des bonnes qualités et une bonne connaissance en rappelant tous les étapes de la cérémonie Wadian, on la fait dans la cérémonie Wadian (on appelle la cérémonie d’amener Iwadian Tumang hampe).
Cet apprenant peut obtenir le titre Wadian et le mettre avant son nom après avoir fini ces trois étapes. Alors, il peut guider les cérémonies de Wadian autour de la société.

mansar, hari ke 3


Pencarian Kayu Ulin
Kayu ulin menjadi bahan utama untuk kegiatan pemugaran makam pada upacara mansar, kayu ulin digunakan untuk membuat papan batur serta perumahan makam, selain itu digunakan pula untuk membuat baluntangyang nantinya berperan penting pada upacara puncak. Seperti hari-hari sebelumnya seluruh kegiatan dimulai dengan berdiskusi mengenai apa saja yang akan dilakukan, tak lupa segelas kopi dan tuak disajikan kepada semua orang yang hadir, sesekali para mantir menanyakan kepada wara wayu yang masih tetap melakukan ritual di dekat tukung tung tiung mengenai apa saja yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya. berbagai kegiatan dilakukan guna mempersiapkan upacara puncak yang akan dilakukan pada hari ke 6, mulai dari melengkapi tukung tung tiung dengan berbagai macam benda, disekitar tempat upacara pun berkumpul banyak orang dari berbagai kampung. kegiatan usik liau pun dilakukan pada saat yang ditentukan setiap harinya. Bila dilihat secara kasat mata maka berbagai kegiatan di sekitar tempat upacara adalah kegiatan perjudian namun bila dilihat filosofi usik liau yang berarti permainan roh maka menurut pendapat saya kegiatan ini dilakukan agar upacara tidak terganggu oleh roh-roh jahat maka diadakan permainan-permainan ini di sekitar tempat upacara.

Senin, 25 Januari 2010

mansar, hari ke 2



Mengumpulkan mantir, selain wara wayu, mantir memiliki peran penting dalam penyelenggaraan upacara mansar. Setiap kegiatan pada disetiap hari dimulai dengan berdiskusi mengenai apa saja yang akan dilakukan, hari kedua upacara adalah mengumpulkan mantir-mantir dari desa sekitar yang bersedia dan mampu mengikuti dan membantu upacara dari awal hingga akhir kegiatan. Setelah terkumpul sejumlah mantir dan sesuai dengan jumlah yang diminta wara wayu maka ditetapkan bahwa kegiatan dapat dilanjutkan.Pihak keluarga menanyakan kesanggupan para mantir dan menyepakati berbagai hal dengan para mantir, dikarenakan setiap desa dan mantir berbeda-beda maka kegiatan ini memakan waktu hingga satu hari, selain mengumpulkan mantir, seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini melengkapi segala keperluan yang belum selesai pada hari pertama.

Kamis, 03 Desember 2009

L’événement Wadian


L’événement Wadian est l’un de la culture de Dayaks Ma’anyan à Barito Timur. Comme l’héritages de l’ancêtre, la culture Wadian a le rôle important à la société. L’un du rôle de Wadian est : diriger la société de Dayak Ma’anyan communiquer à le dieu. En autre fois la culture Wadian aussi devient le part du droit coutumier de Dayak Ma’anyan qui vient des adeptes Kaharingan. A cause de la presser d’ordre nouveau que le gouvernement connue seulement 5 religions en Indonésie, les adeptes Kaharingan ne vont pas de courage pour présenter leur culture. L’exemple du presser de la gouvernement comme : la sagesse de Ministre de l’Intérieur Général Amir Mahmud en 1979 sur l’écriture des religion dans le carte d’identité que l’indonésien doit écrit l’un de 5 religion en Indonésie.
La presser de gouvernement aux adaptes Kaharingan qui est originaire de la culture Wadian faire le changement structurel au culture de la société. Ils renoncent sa croyance Kaharingan comme l‘adoration aux mânes des ancêtres. Kaplan et Manners dans le livre Teori Budaya dissent que : Le changement structurel dans la société est une mort de la culture de cette société (2002,88). L’ethnique du Dayak Ma’anyan est une grande ethnie, aussi il y a les autres grandes ethnies à Bornéo du Centre comme Dayak Ngaju et Dayak Ot Danum, ensuite, on les partage dans sous ethnies. Chaque ethnie a différentes coutumes, mais ils ont le même but. Par exemple le rite traditionnel pour la médication des peuples Ma’anyan s’appellent Wadian mais les peuples Ngaju l’appelle comme Balian. Tjilik Riwut dans le livre Maneser Panatau Tatu Hiyang dit que : l’originalement d’ethnique Dayak à Kalimantan Tengah avait la religion Kaharingan, cet la croyance et l‘adoration aux mânes des ancêtres, on la dit animisme et dynamisme (77). La bible de Panaturan « la bible de religion du Kaharingan », toutes les habitudes quand les gens vivent et son morts on la relation avec Hiyang Penguasa Alam Jagad (le nom du Dieu pour les peuples de kaharingan). Dilem Gentong et Satimen Dusau dans le livre Sejarah dan Kahiyang Wadian dit que : L’évènement du « Wadian » est un exemple de la culture des peuples Dayak Ma’anyan (1). L’évènement Wadian est un rite des peuples Ma’anyan pour donner ses prières et dire quelque chose à Hiyang Penguasa Alam Jagad. Maintenant les peuples de Ma‘anyan renonce à la culture de Wadian parce qu’ils pensent que la culture de Wadian est une régression de la science et c’est une chose interdite par la religion. En 1332, la culture de Wadian devient la partie de règlement au pays de Nansarunai. Ensuite, les supérieurs de la culture et de la société ont décidé que la langue Pangunraun (la langue élevée de Ma’anyan) comme la langue pour d’évènement Wadian et Wadian Pangunraun devient le premier nom de cet évènement. En considération de la différente fonction, Wadian Pangunraun est partagé à Wadian Pangunraun Rumung (surtout l’habitude de la vie) et Pangunraun Jawa (le rite sur la cérémonie de la mort). La culture Wadian se partage dans 7 types selon la source, (l’histoire et Kahiyangan « l’art de voix » Ma’anyan), ce sont ;

1. Wadian Pangunraun ; Gentong et Dusau dit que ; quand la cérémonie Ijame Datu Burungan à Watang Helang Ranu, Tate Ngagang Wunrung, Mantir Kaki (le nom d’assistant les supérieurs de la société) partage l’évènement Wadian Pangunraun sur deux types ; Wadian Pangunraun Rumung et Wadian Pangunraun Jawa.

2. Wadian Amunrahu est une type de Wadian qui a le différent fonction, Bintang Amunrahu Wulan Gisi Langit Inung Babu Haji et Hinga Wulan Layu la séparent pour l’améliore d’utilisation par peuples Ma’anyan.

3. Wadian Tapu Unru a été créer quand les habitent penser que la connaissance vient des gens de la mystique, alors il peut l’exprimer au culture Wadian.

4. Wadian Bawu vient d’une mystérieuse personne s’appelle Si Balala, en général les hommes faites cet Wadian.

5. Wadian Dadas est une culture Wadian qui vient de comportement d’un calao s’appeler Jure Ineh.

6. Wadian Dapa est un type de Wadian a presque disparu. Maintenant, il est difficile de chercher l’information sur qui est crée ce Wadian, comment la manières et la fonction. On a sait seulement, le Wadian Dapa est devise dans deux types, il est Wadian Dapa Nyurung Hubung et Wadian Dapa Ngajaijei.

7. Wadian Sanggar a été crée parce qu’il n y a pas de courage autour des peuples pour présenter l’événement Wadian dans les cérémonies comme la fête de mariage ou cérémonie d’accueil.

On appelle une personne qui dirige Wadian comme Wadian, par devenir Wadian, une personne doit accomplir trois étapes. Ce sont :

1. Ayak Kingking

2. Tumang Satengah (Ayak Manta)

3. Tumang Hampe ou Tumang Jari

Il peut obtenir le titre Wadian après finir ces trois étapes et il peut guider les cérémonies de Wadian autour de la société.




Senin, 09 November 2009

UPACARA MANSAR


UPACARA MANSAR
Upacara atau ritual adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Ritual Mansar pada suku dusun di daerah aliran sungai (DAS) barito merupakan salah satu upacara atau ritual, yng dengan legalisasi dari agama hindu kaharingan menjadikannya upa
cara keagamaan. Mansar adalah salah satu tahap dalam rukun kematian dimana keluarga arwah atau keluarga yang mengadakan upacara bagi orang yang sudah meninggal ini harus melakukan berbagai tahapan rukun kematian. tujuan akhir yang akan dicapai adalah sang arwah mencapai surga dengan aman. Upacara ini adalah tahapan memindahkan arwah dari alam bawah atau dari atas tanah ke alam penantian menunggu sebelum upacara terakhir yaitu wara. Lebih identik dengan kegiatan pemugaran makam. Biasanya upacara berlangsung selama 7 hari 7 malam, namun terkadang disesuaikan dengan budaya di daerah tempat upacara dilakukan. Dimulai dimulai dengan kegiatan mengundang para tu'eh tumpuk (sesepuh desa) dan para penghulu dari beberapa desa untuk merembukan berbagai hal seperti : wara wayu yang akan diundang memimpin upacara, rangkaian kegiatan, dan berbagai persiapan lainnya. Berdasarkan hukum adat yang berlaku, diperlukan lebih dari 3 Mantir dari desa sekitar baru kegiatan ini dapat dilaksanakan. Hari pertama adalah pembuatan tukung tung tiung yandg ditempatkan di tiang tengah rumah, malamnya dilanjutkan dengan memasang seluruh perlengkapan upacara sebelum ngampiharung (mempersilahkan duduk) wara wayu, Mantir, atau salah satu anggota keluarga yang dituakan akan menanyakan syarat-syarat serta perlengkapan apa saja yang perlu disiapkan sebelum dan saat upacara dilakukan. Setelah semuanya siap, maka upacara dapat dimulai. 3 hingga 4orang wara wayu memulai upacara dan duduk di dekat tukung tung tiung, kegiatan ini dilakukan sepanjang malam. sesekali alat musik tradisional dibunyikan mengiringi doa-doa yang diucapkan para wara wayu. menjelang pagi para mantir dan keluarga penyelenggara upacara berkumpul untuk merembukan kegiatan apa yang akan dilakukan hari itu, segelas kopi dan tuak disajikan kepada semua orang yang hadir. sesekali para mantir menanyakan kepada wara wayu apa saja yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya.

Minggu, 19 April 2009

the last defender


Indonesia have a lot tribe who also have their own culture, but in present time they culture have been decrease by the modernization. some culture almost gone like one of our culture, the reason is no successor who want to continue our heritage. for example our culture the "wadian dadas" all of the shaman who called wadian getting old and no youngster want to learn it, wadian dadas is one of the type who only women shaman who cant use it, this is the culture of dayak maanyan, sub-clan of dayak ngaju(maneser panatau tatu hiang, djilik riwut) among the society she is the most important person, she lead the ceremony traditional according the traditional law. In present time, there is less woman who wan to be wadian, some reason is most of maanyan people already convert to other religion, and the believe like that is forbidden for some religion. The youngest wadian dadas i meet is more than 30years old. let say she life until 50 or 60 years, and we can say in 20 or 30 years this ceremony will be gone. (continue)