Tampilkan postingan dengan label wara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wara. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Januari 2014
Baluntang, Simbol Status Orang Dayak
Palangka Raya – Orang dayak Maanyan menyebutnya Baluntang sedangkan orang Ngaju menamakannya Sapundu, keduanya memiliki bentuk dan fungsi yang hampir sama. Secara umum bagi orang dayak maanyan utamanya yang beragama kaharingan, mendirikan baluntang sangatlah penting. Karena upacara Buntang dimana baluntang menjadi objek utama Aruh (upacara) merupakan bagian penting dalam tahapan upacara kematian. Upacara ini bertujuan mengangkat arwah orang yang meninggal dari alam kubur ke alam roh yang penuh kesempurnaan sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga dan warga terhadap mendiang.
Baluntang sendiri memiliki fungsi fisik menjadi tempat mengikat kerbau yang dikorbankan pada upacara buntang dan juga sebagai batur atau nisan. Untuk bentuk fisiknya berupa batang ulin (kayu besi) yang seperempatnya dipahat menyerupai wujud manusia. Setiap rupa patung ini menggambarkan keadaan mendiang semasa hidupnya.
Bila patung berupa orang berdiri dan memegang tongkat maka kemungkinan besar semasa hidup almarhum adalah wadian/balian. Bila patung memegang tombak dan mandau maka kemungkinan arwah adalah pejuang atau kesatria. sedangkan bila rupa patung sedang duduk di atas kursi maka orang yang diperlambangkan adalah pejabat seperti penghulu, pembakal atau mantir kepala adat.
Mengapa baluntang dapat menjadi penanda status social dikalangan masyarakat dayak maanyan, hal ini dikarenakan untuk mendirikan baluntang diperlukan biaya yang mahal. Andaikan saja ada rumah yang kecil namun didepannya terdapat banyak baluntang maka keluarga diruma itu bias dikatakan keluarga berada. Berbeda dengan saat ini dimana megah dan mewahnya rumah serta deretan mobil menjadi penanda status seseorang.
Upacaranya buntang sediri dapat berlangsung antara tiga hingga tujuh hari tergantung kemampuan penyelenggara. Meskipun besar biayanya, tetap harus dilaksanakan bahkan bisa saja satu baluntang dibangun untuk lebih dari satu leluhur, asalkan masih satu garis keturunan.
Sejak pencarian kayu, pembuatan, hingga berdirinya baluntang, banyak ritual pantangan, dan syarat yang harus dilakukan dan dipenuhi. Contohnnya saja pembuatan baluntang, sebelum mulai pekerjaannya, pemahat melakukan ritual menyembelih ayam jantan. Syarat lainya yaitu menyiapkan dua jenis beras, beras lungkung dan dan beras ketan dalam sangku, dilengkapi satu bungkus gula merah dan sebutir buah kelapa tua.
Jadi cukup jelas bahwa pemahat baluntang bukanlah sembarang orang, karena diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus untuk memahat baluntang. Hal ini menambah nilai seni, estetika serta nilai sejarah dari baluntang, itulah mengapa pada tahun 70an sangat banyak balutang warga yang hilang dicuri.
Saat ini keberadaan baluntang yang sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun yang dalam kondisi bagus sudah cukup jarang. Namun sekarang mulai berdiri beberapa baluntang baru di daerah Barito, dimana sebagian besar suku dayak maanyan tinggal.
Senin, 01 Februari 2010
mansar, hari ke 3

Pencarian Kayu Ulin
Kayu ulin menjadi bahan utama untuk kegiatan pemugaran makam pada upacara mansar, kayu ulin digunakan untuk membuat papan batur serta perumahan makam, selain itu digunakan pula untuk membuat baluntangyang nantinya berperan penting pada upacara puncak. Seperti hari-hari sebelumnya seluruh kegiatan dimulai dengan berdiskusi mengenai apa saja yang akan dilakukan, tak lupa segelas kopi dan tuak disajikan kepada semua orang yang hadir, sesekali para mantir menanyakan kepada wara wayu yang masih tetap melakukan ritual di dekat tukung tung tiung mengenai apa saja yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya. berbagai kegiatan dilakukan guna mempersiapkan upacara puncak yang akan dilakukan pada hari ke 6, mulai dari melengkapi tukung tung tiung dengan berbagai macam benda, disekitar tempat upacara pun berkumpul banyak orang dari berbagai kampung. kegiatan usik liau pun dilakukan pada saat yang ditentukan setiap harinya. Bila dilihat secara kasat mata maka berbagai kegiatan di sekitar tempat upacara adalah kegiatan perjudian namun bila dilihat filosofi usik liau yang berarti permainan roh maka menurut pendapat saya kegiatan ini dilakukan agar upacara tidak terganggu oleh roh-roh jahat maka diadakan permainan-permainan ini di sekitar tempat upacara.
Senin, 25 Januari 2010
mansar, hari ke 2
Mengumpulkan mantir, selain wara wayu, mantir memiliki peran penting dalam penyelenggaraan upacara mansar. Setiap kegiatan pada disetiap hari dimulai dengan berdiskusi mengenai apa saja yang akan dilakukan, hari kedua upacara adalah mengumpulkan mantir-mantir dari desa sekitar yang bersedia dan mampu mengikuti dan membantu upacara dari awal hingga akhir kegiatan. Setelah terkumpul sejumlah mantir dan sesuai dengan jumlah yang diminta wara wayu maka ditetapkan bahwa kegiatan dapat dilanjutkan.Pihak keluarga menanyakan kesanggupan para mantir dan menyepakati berbagai hal dengan para mantir, dikarenakan setiap desa dan mantir berbeda-beda maka kegiatan ini memakan waktu hingga satu hari, selain mengumpulkan mantir, seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini melengkapi segala keperluan yang belum selesai pada hari pertama.
Senin, 09 November 2009
UPACARA MANSAR

UPACARA MANSAR
Upacara atau ritual adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Ritual Mansar pada suku dusun di daerah aliran sungai (DAS) barito merupakan salah satu upacara atau ritual, yng dengan legalisasi dari agama hindu kaharingan menjadikannya upacara keagamaan. Mansar adalah salah satu tahap dalam rukun kematian dimana keluarga arwah atau keluarga yang mengadakan upacara bagi orang yang sudah meninggal ini harus melakukan berbagai tahapan rukun kematian. tujuan akhir yang akan dicapai adalah sang arwah mencapai surga dengan aman. Upacara ini adalah tahapan memindahkan arwah dari alam bawah atau dari atas tanah ke alam penantian menunggu sebelum upacara terakhir yaitu wara. Lebih identik dengan kegiatan pemugaran makam. Biasanya upacara berlangsung selama 7 hari 7 malam, namun terkadang disesuaikan dengan budaya di daerah tempat upacara dilakukan. Dimulai dimulai dengan kegiatan mengundang para tu'eh tumpuk (sesepuh desa) dan para penghulu dari beberapa desa untuk merembukan berbagai hal seperti : wara wayu yang akan diundang memimpin upacara, rangkaian kegiatan, dan berbagai persiapan lainnya. Berdasarkan hukum adat yang berlaku, diperlukan lebih dari 3 Mantir dari desa sekitar baru kegiatan ini dapat dilaksanakan. Hari pertama adalah pembuatan tukung tung tiung yandg ditempatkan di tiang tengah rumah, malamnya dilanjutkan dengan memasang seluruh perlengkapan upacara sebelum ngampiharung (mempersilahkan duduk) wara wayu, Mantir, atau salah satu anggota keluarga yang dituakan akan menanyakan syarat-syarat serta perlengkapan apa saja yang perlu disiapkan sebelum dan saat upacara dilakukan. Setelah semuanya siap, maka upacara dapat dimulai. 3 hingga 4orang wara wayu memulai upacara dan duduk di dekat tukung tung tiung, kegiatan ini dilakukan sepanjang malam. sesekali alat musik tradisional dibunyikan mengiringi doa-doa yang diucapkan para wara wayu. menjelang pagi para mantir dan keluarga penyelenggara upacara berkumpul untuk merembukan kegiatan apa yang akan dilakukan hari itu, segelas kopi dan tuak disajikan kepada semua orang yang hadir. sesekali para mantir menanyakan kepada wara wayu apa saja yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya
.
Upacara atau ritual adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Ritual Mansar pada suku dusun di daerah aliran sungai (DAS) barito merupakan salah satu upacara atau ritual, yng dengan legalisasi dari agama hindu kaharingan menjadikannya upacara keagamaan. Mansar adalah salah satu tahap dalam rukun kematian dimana keluarga arwah atau keluarga yang mengadakan upacara bagi orang yang sudah meninggal ini harus melakukan berbagai tahapan rukun kematian. tujuan akhir yang akan dicapai adalah sang arwah mencapai surga dengan aman. Upacara ini adalah tahapan memindahkan arwah dari alam bawah atau dari atas tanah ke alam penantian menunggu sebelum upacara terakhir yaitu wara. Lebih identik dengan kegiatan pemugaran makam. Biasanya upacara berlangsung selama 7 hari 7 malam, namun terkadang disesuaikan dengan budaya di daerah tempat upacara dilakukan. Dimulai dimulai dengan kegiatan mengundang para tu'eh tumpuk (sesepuh desa) dan para penghulu dari beberapa desa untuk merembukan berbagai hal seperti : wara wayu yang akan diundang memimpin upacara, rangkaian kegiatan, dan berbagai persiapan lainnya. Berdasarkan hukum adat yang berlaku, diperlukan lebih dari 3 Mantir dari desa sekitar baru kegiatan ini dapat dilaksanakan. Hari pertama adalah pembuatan tukung tung tiung yandg ditempatkan di tiang tengah rumah, malamnya dilanjutkan dengan memasang seluruh perlengkapan upacara sebelum ngampiharung (mempersilahkan duduk) wara wayu, Mantir, atau salah satu anggota keluarga yang dituakan akan menanyakan syarat-syarat serta perlengkapan apa saja yang perlu disiapkan sebelum dan saat upacara dilakukan. Setelah semuanya siap, maka upacara dapat dimulai. 3 hingga 4orang wara wayu memulai upacara dan duduk di dekat tukung tung tiung, kegiatan ini dilakukan sepanjang malam. sesekali alat musik tradisional dibunyikan mengiringi doa-doa yang diucapkan para wara wayu. menjelang pagi para mantir dan keluarga penyelenggara upacara berkumpul untuk merembukan kegiatan apa yang akan dilakukan hari itu, segelas kopi dan tuak disajikan kepada semua orang yang hadir. sesekali para mantir menanyakan kepada wara wayu apa saja yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya
Langganan:
Postingan (Atom)